This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Cidera Kelingking yang Berkepanjangan

Hal-hal yang tidak diinginkan mungkin saja bisa terjadi kapanpun. Bahkan bagi orang yang aktivitasnya bersifat rutin. Dan inilah kejadian yang aku alami.

Antusiasme berlatih yoga pada saat sedang yoga teacher training ternyata tidak konsisten saat menunjukkan sequence yang telah aku buat kepada guruku. Saat menunjukkan salah satu pose, yang biasanya mudah saja, namun pada detik itu tumpuanku sedikit bergoyang sehingga tak seimbang, pose itu ada Ardha Chandrasana atau Half Moon.

Half Moon merupakan salah satu pose balance atau keseimbangan yang bertumpu pada satu kaki, tubuh menghadap ke salah satu sisi, wajah menghadap ke satu sisi/tangan yang di atas/tangan yang di bawah, dan kedua tangan direntangkan ke atas dan ke bawah.

Tiba-tiba rasa lelah muncul, tumpuan kaki kananku melemah, dan akhirnya keseimbangan di tubuhku goyah. Untuk menahan beban tubuhku efleks tanganku menahan agar tidak terbanting, namun sialnya kelingking tanganku yang terbentur duluan. Dan rasanya sangat sakit sekali. Namun, aku menahan rasa sakit tersebut dan melanjutkan berlatih.

Setelah kejadian, rasa sakit sangat terasa, kelingking tanganku tidak bisa lurus. Namun aku biarkan saja. Aku pikir ini akan sembuh dengan sendirinya, mungkin seminggu atau dua minggu. Karena ssebelumnya aku pernah mengalami kejadian yang sama, namun itu terjadi pada kelingking kaki. Waktu itu pada saat jadi member, aku dipaksa untuk melakukan pose Astavakrasana atau Eight-angle pose. Pada saat itu, tubuhku belum terlalu kuat yang membuat kakiku terbanting dan kelingking yang terbanting duluan. Rasanya sangat sakit, kelingking langsung biru. Namun, tidak terlalu dirasa, bahkan sorenya aku masih bisa ikut Bodycombat meskipun beberapa gerakan aku harus melakukan regresi.

Sebulan berlalu, rasa sakit tak kunjung sembuh. Area sendi antara ruas pertama dan kedua kelingking terasa bengkak. Jika diraba, rasanya seperti ada benjolan di antara sendi, warna area tersebut pun merah. Ini membuat kelingkingku tak bisa lurus. Rasa sakit terjadi jika tidak sengaja mengalami kontak entah dengan tekanan besar maupun kecil. Rasanya kurang nyaman dalam beraktivitas. Akupun konsultasi dengan dokter ortopedi secara online. Kemungkinan yang terjadi adalah tendon robek, namu perlu dipastikan juga apakah ada patah atau retak tulang atau tidak, aku direkomendasikan untuk melakukan rontgen.

Karena tidak mau mengeluarkan biaya untuk rontgen, aku berencana untuk menggunakan BPJS dengan meminta rujukan ke Faskes 1. Namun, ketika melihat antrean di Puskesmas sangat tidak masuk akal, akhirnya aku memutuskan untuk menggunakan biaya sendiri. Alhamdulillah hasilnya baik, tidak ada patah atau retakan di area sekitar.


Saat aku pulang ke rumah, aku dicek oleh pamanku yang bisa pijat. Sebenarnya sih emang tidak boleh dipijat ya, namun setelah ku bilang tidak ada patah tulang, katanya sih aman. Saat dipijat,katanya ada aliran darah yang tidak lanjar sehingga membengkak. Setelah dipijat, katanya 3 hari akan kempes dan bisa lurus kembali kelingkingnya.

Tapi kenyataannya tidak saudara-saudara. Bengkak berkurang, tapi masih ada rasa benjolan keras, area sendi masih merah, dan tetap bengkok. Akhirnya aku diamkan lagi saja.

Dua bulan berlalu, rasanya tidak ada progress. Setelah bercerita ke teman yang seorang perawat sekaligus instuktur pilates, aku disarankan untuk melakukan fisioterapi. Ya, aku langsung mencari tempat fisioterapi.

Dalam sebulan aku melakukan 3 kali fisioterapi. Treatmennya sama, area yang sakit diberi treatment ultrasound, bagian lengan direlaksasi, dan otot kelingking dilatih. Pada saat ultrasound itu rasanya cenut-cenut, ngilu, dan panas. Katanya itu membuktikan ada kerusakan jaringan. Ultrasound ini membantu mempercepat pertumbuhan jaringan lunak yang rusak. Rasa sakit dan ngilu menujukkan bahwa jaringan tersebut benar-benar rusak.



Setelah 3 kali treatment apakah sembuh? Masih belum, hanya saja rasa sakit berkurang, tapi masih ada jika tertekan berlebih. Kelingking tetap tidak bisa diluruskan, menurut terapis ini terjadi karena telat penanganan sehingga jaringan yang terbentuk adalah jaringan abnormal. Treatment masih perlu dilakukan dengan fokus mengurangi rasa sakit. Namun saat ini, aku berhenti dulu melanjutkan treatment karena biaya fisioterapis cukup menguras kantong. Hehe.

Untuk saat ini yang bisa aku lakukan adalah mengompres dingin dan panas sesekali. Lebih sering mengoleskan Zam-buk karena menurut rekomendasi teman itu bisa memberikan rasa nyaman di area sakit. Meskipun sudah 2 bulan aku menggunakannya masih tidak ada perubahan.

Sekian ceritaku, aku minta saran jika ada yang perlu aku lakukan. Terima kasih.

 

The Recap of 2025

 


Tahun 2025 adalah tahun perubahan. Diawali dengan pindahnya ke unit kerja baru dengan jabatan baru. Meskipun keinginan pindah unit kerja terwujud, namun tetap tidak sempurna yang dibayangkan. Ada saja ujian dan hambatannya. Sepenuhnya proses ini dinikmati sepenuhnya. Karena di dalam unit kerja baru ini, ada beberapa hal yang bisa mengembangkan potensi, seperti flashback di unit kerja sebelumnya pada tahun 2019-2020.

Selama tahun 2025 juga, ada langkah baru yang diambil, menjadi instruktur olah raga. Dua program yang diambil yaitu yoga dan Bodybalance. Setelah lulus 50 jam, langsung diberikan kesempatan mengajar sehingga ilmu yang sudah diperoleh tidak sia-sia. Rasanya 50 jam saja tidak cukup, ambilah 100 jam di Juni dan 200 jam di Desember, hingga lengkaplah seri dasar pondasi dalam mengajar yoga. Pada Maret, diberi kesempatan untuk mengikuti audisi trainee Bodybalance, lulus di Juli, dan bisa mengajar di Agustus. Hal ini merupakan pencapaian yang luar biasa buat diri ini yang awalnya tidak menyukai olah raga, hingga menjadi instruktur olah raga.

Karir di dunia akademik juga masih berlanjut. Tidak terasa sudah memasuki tahun ketiga menjadi seorang tutor. Di semester awal, dipercaya menjadi tutor 1 kelas tutorial online reguler, pembimbing 2 kelas studio/praktikum, dan korektor UAS 1 mata kuliah. Di semester kedua dipercaya menjadi tutor 2 kelas tutorial online, pembimbing 2 kelas studio/praktikum, dan pembahas 9 kelompok studio/praktikum. Selain itu, 1 research paper bisa berhasil terbit, meskipun hampir tertunda selama 1 tahun.

Namun, dibalik tercapainya kesempatan-kesempatan yang didapat, ujian kehidupan juga didapat. Ditinggalnya papah menjadi salah satu pukulan terberat karena tidak terbayangkan diri ini akan mengalami kehilangan salah satu orang tua. Pencapaian yang sudah didapatkan ini rasanya hampa. Layaknya anak yang ingin mendapat pujian dan rasa bangga dari orang tua, kini tidak bisa dirasakan. Diri ini pun teringat dengan hal-hal yang diinginkan sesungguhnya oleh orang tua namun belum terpenuhi hingga akhir hidupnya. Ada sedikit rasa kekesalan dalam diri, namun diri ini sadar belum bisa memenui hal tersebut dalam waktu dekat karena satu dan lain hal.

Sejauh ini, bangga dengan diri sendiri. Bangga atas pencapaian, bangga punya keluarga yang selalu mendukung apapun keinginan amnaknya, bangga punya teman-teman sekitar yang selalu memberikan dukungan dan punya positive vibes.

Terima kasih tahun 2025. Sungguh tahun yang berbeda dibandingkan 2022-2024, seperti terjadi reformasi dalam diri. Tahun 2026 ini semoga lebih baik, lebih cemerlang, dan tentunya bisa menghadapi berbagai ujian dengan baik.

Sampai Jumpa di Surga Allah ya Pah!


Sabtu pagi, 28 Juni 2025, aku bangun pagi karena di hari itu aku akan melakukan training Yoga 100 jam di Sunter. Semua berlangsung seperti biasa, aku belajar dan bercengkerama dengan trainee lainnya. Setelah kegiatan selesai, aku pulang sekitar pukul 16.30. Perjalanan sore itu cukup tersendat, padahal seharusnya dari Sunter ke Pademangan itu tidak jauh. Aku menghabiskan waktu sekitar 45 menit perjalanan karena pada hari ini memang sedang berlangsung PRJ sehingga Jalan Benyamin Sueb sangat padat merayap. Sepanjang perjalanan pulang, beberapa kali ponselku bergetar, namun tidak aku hiraukan karena aku masih fokus mengendarai motor. Sesampainya di parkiran depan rumah, telepon kembali berdering, nama mama di layar ponsel, langsung ku angkat.

Sambil menangis terisak-isak, mama hanya bilang, "De pulang, papa kritis".

Aku hanya menjawab, "iya pulang sekarang".

Telepon langsung ditutup oleh mama. Akupun masuk ke dalam rumah. Sambil bingung harus bagaimana. Pikiranku seketika blank, namun aku masih sadar. Aku hanya bingung, apakah aku harus mandi dulu, apakah aku ke Gambir, atau aku harus bagaimana? Setelah menghirup nafas yang panjang, aku memutuskan untuk mandi dulu, memasukkan beberapa pakaian dalam dan beberapa barang yang penting untuk di bawa, mematikan seluruh listrik, dan mencabut regulator gas. Aku berpikir, sepertinya aku akan lama di Bandung. Setelahs emuanya beres, aku memutuskan untuk naik motor ke Stasiun Halim dan ke Bandung naik kereta cepat. Dengan harapan aku bisa naik kereta yang jam 18.30. Aku beli tiket on the spot saja karena khawatir terlambat dan hangus tiketnya.

Sepanjang perjalanan perjalanan menuju Stasiun Halim, pikiranku kosong tapi aku masih sadar bahwa aku sedang mengendarai motor. Di flyover Jatinegara, gerimis mulai terasa. Aku memutuskan untuk menggunakan jas hujan. Sesampainya di stasiun aku langsung mencari mesin tiket. Ternyata tidak tersedia kereta jam 18.30 padahal aku sampai di jam 18.15. Akupun memlili kereta jam 19.00. Sepanjang perjalanan aku menelpon temanku dan meceritakan kondisi papa sesuai dengan apa yang diceritakan oleh mama terakhir di telpon. Sesampainya di Stasiun Padalarang, informasi papa telah meninggal dikirim oleh salah satu sepupuku. Mulai saat itu, dunia terasa berjalan sangat lambat.

Perjalanan dari Stasiun Padalarang ke Stasiun Bandung dan dari Stasiun Bandung ke rumah sakit terasa lama sekali. Pikiranku kosong, satu yang kupertanyakan, kok bisa aku mengalami hal ini. Meskipun sudah sedewasa ini, aku masih merasa anak kecil yang punya orang tua yang tidak akan pernah mati. Sedewasa apapun yang aku lakukan saat ini tetapi aku masih anaknya papah mamah selamanya dan tak akan pernah terpisahkan. Ya tapi semua ini pasti terjadi. Pasti ada yang namanya kematian. Aku berjalan dari gerbang rumah sakit tanpa tahu arah. Hal yang ku tahu adalah Gedung Cancer, tempat ayahku biasa di rawat. Naluriku tidak salah, di sebelah Gedung Cancer, tepat jalan menuju basement, sudah berkumpul saudara-saudaraku.Aku diantarkan ke dalam basement, tepatnya ke ruang jenazah. Mama dan kakakku sudah duduk, aku diantarkan untuk melihat jenazah papaku yang sudah terbujur kaku.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, pikiranku masih kosong. Aku ikut prosesi memandikan, melihat saat dikafani, dan menyolatkan di rumah, pikiranku masih kosong. Ini adalah kondisi yang belum pernah terjadi sama sekali. Ketika ada tenda depan rumah serta keluarga dan tetangga berkumpul. Aku belum bisa mencerna semua kejadian ini.

Keeskoan paginya, setelah mandi dan bersiap diri. Aku ikut masuk mobil jenazah untuk dibawa ke masjid untuk di solatkan. Sesampainya di masjid dan jenazah papahku sudah disimpan di masjid, barulah tangisku pecah ruah. Saat mengambil air wudhu aku baru tersadar bahwa aku ditinggalkan oleh salah satu orang tuaku. Saat solat dan perjalanan ke pemakaman pun tangisku tak berhenti. Aku masih tidak menyangka hal ini akan terjadi. Aku teringat saat-ssat terakhir masih jenguk papa ke rumah sakit. Aku teringat kebaikan tetangga dan keluarga yang telah sigap membantu. Kejadian ini sungguh memberikan aku banyak pelajaran. Karena terlalu banyak mengeluarkan air mata, kepalaku jadi terasa berat. Saat ditawari untuk masuk liang lahat, aku tidak kuat dan memilih melihat dari atas.

Selama tujuh hari aku berada di rumah. Cuti yang aku rencanakan untuk bersama keluarga, makan bersama, menjadi cuti berkabung dan memang menemani mama. Untuknya masih ada saudara yang menginap di rumah dan setiap harinya ada saja orang yang melayat. Namun, pasti akan ada hari di mana mama akan sendiri lagi, menjalani kehidupan seperti biasa. Termasuk aku yang harus kembali ke Jakarta untuk berkerja.

Sampai awal Agustus ini memang kegiatanku cukup padat setiap harinya sehingga aku tidak bisa pulang ke Bandung setiap minggunya. Namun, nanti di 40 hari papaku aku akan cuti panjang dan mulai kedepannya aku akan pulang ke Bandung 2 minggu sekali.

Sekian cerita ini. Sejujurnya cerita ini sudah aku konsepkan sejak H+7 kematian papahku. Tapi terlalu sedih untuk diceritakan dan baru diselesaikan pada hari ini. Meskipun sempat berkaca-kaca lagi. Mengingat semua kejadian kemarin yang sangat terasa cepat.

Life as Tutor UT





Salah satu cita-citaku yang sampai saat ini belum tercapai adalah menjadi seorang dosen. Aku senang belajar dan berbagi kepada orang lain serta menggali hal-hal baru khususnya di bidang keilmuan yang aku suka. Hanya saja, ada berbagai kendala yang membuat cita-citaku ini terhambat, terutama karena pekerjaanku saat ini. Tidak ada waktunya untuk mengajar dan tidak ada kesempatannya. Selain itu, ada hal-hal lain yang terutama terkait kapabilitas yang belum dapat aku penuhi. Namun, syukur alhamdulillah, berkat info dari teman dan juga keinginan yang kuat untuk mempertahankan ilmu saat sarjana, aku diberi kesempatan menjadi tutor di UT. Tidak terasa pula, saat ini sedang menjalani semester yang kelima, atau sudah 2 tahun lebih aku menjadi Tutor.

Apa itu Tutor?

Pada prinsipnya kuliah di UT itu adalah belajar mandiri. Oleh karena itu, untuk menunjang hal tersebut, UT mempunyai program bantuan belajar dengan nama Tutorial Online atau disingkat Tuton. Tuton ini layaknya website e-learning pada umumnya, di mana mahasiswa dapat mengakses website tersebut. Dalam website tersebut berisi 8 sesi pertemuan yang tiap sesinya dibuka setiap minggunya. Setiap sesi berisi materi yang dapat dipelajari secara mandiri, kuis, dan diskusi yang harus dikerjakan oleh mahasiswa. Selain itu, terdapat tugas juga yang hanya tersedia di sesi 3, 5, dan 7.

Fungsi Tutor sebagai fasilitator pembelajaran bertugas untuk memberikan feedback dan penilaian atas diskusi dan tugas yang dikerjakan oleh mahasiswa. Tambahan tugas tutor lainnya adalah membuat video pengantar di setiap sesinya. Secara umum, tutor tidak mengajar tetapi lebih ke mematik diskusi, meskipun seringkali upaya mematiknya jarang direspons oleh mahasiswa.

Tutor direkrut secara terbuka oleh UT yang dibuka kepada dosen maupun praktisi minimal lulusan Magister. Pihak UT secara aktif selalu membuka lowongan tutor beberapa bulan sebelum sesi pertama tuton dimulai sesuai kebutuhannya.

Pada program studi Perencanaan Wilayah dan Kota yang memiliki mata kuliah praktikum, tidak hanya Tutor, tetapi ada pula yang namanya Pembimbing Studio. Sama seperti Tutor, hanya ada tugas tambahan untuk Pembimbing Studio, yaitu melakukan bimbingan secara online setiap minggunya, bimbingan dilakukan dengan cara pemberian materi, diskusi, dan menyakan update progress pengerjaan studio. Bimbingan studio ini dilakukan selama 12 sesi.

Menjadi tutor ini menjadi salah satu side hustle yang memberikan kenyamanan buat hidupku. Keilmuan-ku di PWK terus terasah karena terus berdiskusi dengan mahasiswa, mencari sumber-sumber materi yang terupdate, dan memang pada dasarnya aku menyukai bidang ini. Kemampuanku dalam berkomunikasi dan presentasi terus terasah karena di pekerjaan utamaku, kemampuan tersebut tidak terlalu terasah karena mengingat masih ada hierarki, jabatan, dan pembagian kerja yang membatasi itu semua.

Penghasilan?

Tentu tidak dapat diharapkan dengan sungguh-sungguh penghasilan sebagai Tutor ini. Jika dibayangkan dengan dosen ya sangat jauh. Tapi memang tujuanku menjadi Tutor adalah terus mengasah keilmuan dan memanfaatkan waktu luang.

Sampai saat ini, aku masih ingin sekali untuk menjadi dosen. Kapabilitas yang masih sangat kurang dalam diri aku pun, aku coba untuk terus diperbaiki dan ditingkatkan, Selain itu, keinginan untuk bersekolah kembali pun masih ada meskipun sedikit menurunkan tingkat ambisinya.

Update Kehidupan 2025



Hi everyone!

Sudah lama sekali aku tidak membuat tulisan di blog ini. Sepertinya aku sudah mulai bosan haha. Tapi sehubungan aku sudah berlangganan domain per tahun, jadi apa salahnya aku lanjutkan blog ini meskipun tidak ada pembaca dan kurang menarik dengan platform lain.

Berbicara tentang kehidupan, memang sungguh up and down. Aku yakin jalan yang diberikan Tuhan itu pasti yang terbaik, meskipun sungguh di luar ekspektasi manusia seperti aku ini. 

Flashback cerita tentang tidak diberdayakannya timku di kantor memang membuat super overthinking dan merasa sungguh useless tiap berangkat ke kantor. Berbagai upaya untuk pindah unit kerja pun banyak sekali mengalami tantangan. Aku yang sudah lulus jabatan Perencana Ahli Pertama pun tak kunjung dilantik. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk kuliah lagi. Ya, kuliah lagi! Aku memutuskan untuk mengambil Sastra Inggris di salah satu universitas swasta di Jakarta dengan program kelas karyawan. Alasannya adalah mengingat kemampuan my english yang sangat minim membuat jauh untuk bersaing mendapatkan beasiswa dan mencari peluang kerja lain. Selain itu, aku terpikirkan untuk ambil freelance as an english teacher. Namun, aku hanya bertahan selama 3 bulan sebagai mahasiswa. Bukan pelajarannya yang sulit, tetapi fleksibilitas yang ditawarkan di kelas karyawan tidak sesuai iklannya. Setiap malam ada tugas yang harus dikerjakan dengan jangka waktu yang singkat, tidak sampai seminggu dan hari Sabtunya ada perkuliahan tatap muka dari jam 8 pagi hingga 3 sore. Sempitnya waktu istirahat membuatku mengibarkan bendera putih dan memutuskan untuk meninggalkan impianku sebagai english teacher.

Setelah itu, aku memutuskan untuk ambil Yoga Teacher Training. Mungkin aku tidak bakat di bidang akademik, maka aku memutuskan utnuk mengambil bidang olah raga. Sebenarnya sejak tahun lalu sudah banyak yang menyarankan aku untuk ambil training tersebut, melihat progresku yang cukup baik di olah raga yoga. Waktu itu aku masih ragu dan baru yakin di November 2024. Akhirnya aku ambil training yang dimulai Januari 2025 dan lulus di Februari 2025. Alhamdulillah, karirku sebagai yoga teacher langsung dimulai, meskipun aku baru dapat dua kelas reguler, 1 di gym dan 1 bersama teman-teman kantorku.

Dibalik banyak dukungan dari teman-temanku sebagai yoga teacher, tetap saja ada orang-orang berhati busuk terhadapku. Ya meskipun ini masih hanya anggapanku saja karena aku malas untuk mengkonfirmasi apakah orang itu benar-benar cemburu padaku ini atau tidak. Tapi ya sudahlah, tak aku pikirkan dan tak perlu aku ceritakan juga sikap orang tersebut.

Salah satu hal yang tak terduga juga adalah di Desember 2024 aku dilantik sebagai Perencana Ahli Pertama. Tentu sangat senang karena pastinya aku dapat keluar dari kandang macan, tapi yang tidak terduga adalah aku ditempatkan di unit kerja yang tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Tidak hanya aku, teman-teman bahkan pimpinan yang sudah menyetujui aku pindah pun tercengang mengenai unit kerjaku sekarang. Benar-benar di luar dugaan! Namun, aku tidak mau menanyakan alasan, aku sudah lelah, aku sudah tidak mau berurusan dengan orang SDM. Pasrah saja. Aku yakin ini tempat terbaikku, meskipun tentu saja ada tantangannya, ada daging jadi yang membuat unit kerja ini mengalami sedikit sakit.

Satu hal lagi yang membuat tercengang para PNS di Indonesia, yaitu efisiensi yang diterapkan oleh Bapak Presiden Baru. Hal ini membuat keterbatasan anggaran dalam kegiatan dan tentunya hilangnya tambahan penghasilan bagi PNS. Jadi para PNS ini hanya mengandalkan take home pay yang tidak seberapa. Jujur, secara pribadi aku tidak kaget karena aku sudah merasakan efisiensi dari tahun 2023, semejak aku dipindahkan ke bdiang sektor riil. Kegiatan sektor riil tidak diprioritaskan sehingga tidak diberikan anggaran sama sekali untuk berkegiatan. Bedanya kalau dulu efisiensi dilakukan oleh pimpinan eselon 2 dan dirasakan oleh timku saja sedangkan sekarang dilakukan oleh presiden jadi sangat dirasakan bagi para PNS jelata.

Untungnya lagi, semenjak diefisiensikan di tahun 2023, aku sudah berusaha mencari tambahan di luar kantor, mulai menjadi tutor UT hingga pernah menjadi freelance di lembaga think-thank. Sekarang ditambah sebagai yoga teacher. Cukup untuk tambahan penghasilan di masa mode penghematan ini. 

Salah satu keinginanku yang belum tercapai adalah bisa kuliah jenjang doktoral. Aku sudah berencana untuk ambil Ilmu Lingkungan di UI agar semua kegiatan freelance-ku masih tetap berjalan. Tapi tentunya kemampuanku untuk memperoleh beasiswa masih jauh di bawah standar. Sempat menyerah dan merasa cukup dengan pendidikan magister ini. Tapi aku akan mencoba lagi saat aku sudah dilantik menjadi Perencana Ahli Muda tahun depan. Semoga ada jalannya, semoga tidak dipersulit, dan semoga ilmu dan amal ini bisa membawa aku ke surganya Allah. Aamiin.

Oh ya, satu hal lagi yang membuatku cenat-cenut adalah mengenai kondisi papa. Semenjak tidak bekerja lagi di awal 2024, hingga saat ini kondisinya semakin drop. Masih bisa beraktivitas namun tidak sekuat sebelumnya. Setiap sebulan atau dua bulan sekali harus ke rumah sakit untuk transfusi darah. Hasil pemeriksaan menunjukan bahwa papa kena leukemia. Secara finansial memang tidak berpengaruh karena full cover BPJS, tapi aku sangat shock. Desember 2023 itu papa masih sehat dan aktif bekerja, tapi di awal 2024 langsung sakit dan akhirnya memutuskan resign. Dan sampai saat ini keadaannya tak kunjung membaik. Terakhir, upaya kemoterapi belum bisa dilakukan karena trombositnya masih sangat rendah. Aku sendiri bingung harus berbuat apa. Aku yang di Jakarta tidak bisa sering ke Bandung juga. Aku hanya bisa support keuangan saja karena papa dan mama sudah tidak bekerja. Untungnya aku masih diberi kelebihan rejeki untuk membantu orang tua, namun jika dipaksa untuk menikah uangnya tidak ada. Semoga orang tua, keluarga, dan teman-temanku memahami alasanku menunda menikah dan kebetulan belum kepingin menikah juga hehe.

Mungkin buat teman-teman yang mengikuti aku di instagram, terlihat bahwa aku happy dengan aktivitasku seperti tidak ada beban. Tidak seperti itu sebenanrnya. Aku sudah tidak mau posting hal-hal yang negatif yang dapat menjadi beban pikiran. Jadi aku selalu posting yang positif-positif saja. Biar teman-temanku tidak khawatir. Aku selalu mencari cara bagaimana menyelesaikan beragam persoalan. Karena aku yakin Tuhan akan selalu membantu hamba-Nya yang dalam kesusahan.

Oktober - Keputusan Ajaib Di Luar Idealisme

Oktober ini bisa dibilang masa di mana aku banyak mengambil keputusan. Tentunya keputusan untuk masa depanku yang semoga bisa menjadi lebih baik ke depannya.

Di awali dengan masa depan kantor yang sangat tidak jelas, apalagi semenjak kepemimpinan baru, tentu saja tempat kerjaku ini harus direorganisasi. Harapan untuk bisa dilantik menjadi JF dalam waktu dekat sangat gelap untuk dilaksanakan. Kelulusan uji kompetensi sejak 7 bulan yang lalu sepertinya hanya akan menjadi kenang-kenangan yang akan segera kadaluarsa. Kekecewaanku terhadap manajemen pegawai sepertinya sudah dalam tahap mati rasa hingga aku merasa bodo amat.

Kekecewaan tersebut menimbulkan inisiasi baru dalam hidup. Rasa idelisme yang aku pupuk dari semenjak lulus kuliah, yaitu bekerja harus di bidang sesuai dengan titel sarjanaku, akan aku kubur dalam-dalam. Aku yakin bahwa Allah akan memberikan rezeki dari berbagai jalan tidak dari jalan yang aku pikirkan. Mulai sekarang, setiap ada jalan dan kesempatan harus dicoba, siapa tahu itulah jalan menggapai rezeki.

Salah satu keputusan besarku yang pertama adalah mengambil kuliah sarjana lagi. Ide ini sudah aku pikirkan sejak tahun 2020 dan baru terlaksana di tahun 2024 ini. Berbagai pertanyaan dan hujatan tentu aku dapatkan, tapi aku tetap ambil keputusan ini sebagai salah satu jalan untuk menjemput kesempatan rezekiku. Aku mengambil program sarjana Sastra Inggris di salah satu kampus swasta di Jakarta. Tujuan utamanya tentu untuk mendukung keinginanku untuk mengambil program doktoral. Bisa lancar menulis dan berbicara. Tapi aku juga ingin menjadi guru les Bahasa Inggris sebagai kegiatan freelance-ku kelak.

Keputusanku lainnya adalah mengambil training untuk menjadi Yoga Teacher. Memang pelatihannya dimulai awal tahun 2025, tapi memang keputusannya harus di mulai di Oktober ini. Aku langsung melunasi pembayaran untuk pelatihan nanti. Menjadi guru yoga juga menjadi incaranku sebagai freelancer.

Kedua ide itu muncul begitu saja sebagai bentuk stress realease-ku. Aku rasa keluar dari idealisme membantuku lebih sehat dalam berpikir. Tentunya keputusan ini selalu didukung oleh teman-temanku. Bahkan sebelum aku mulai pelatihan yoga, sudah ada dorongan untuk mengambil program olah raga lain. Namun tentunya, keputusan itu harus dipikirkan sebaik mungkin. Aku pun harus menyiapkan fisikku lebih hebat lagi.

Aku sangat bersyukur sekali diberi kesempatan ini oleh Allah. Semoga aku bisa menjalaninya dengan baik dan memanfaatkan semua pemebrian Allah yang ada di tubuhku ini dengan baik.

Kekhawatiran Komunikasi

Sehubungan aku lagi membaca buku berjudul Intercultural Communication, jadi terpikir untuk membahas sedikit tentang komunikasi. Lebih tepatnya proses pembelajaran komunikasi yang terjadi dalam diri aku. Aku pikir ini menjadi penting baik bagi proses pengembangan diri maupun pengembangan pada anak-anak yang akan kita miliki.

Ketika mencoba melakukan asesmen terkait kekhawatiran dalam komunikasi, hampir semua jawabannya adalah sangat khawatir. Artinya, aku mengalami kekhawatiran yang sangat tinggi ketika harus bertemu dan berkomunikasi dengan orang lain. Rasa khawatir itu lebih ke takut apa yang aku inginkan dalam komunikasi itu tidak tercapai.

Misalnya, aku gugup ketika akan bertemu dengan atasan. Sebelum bertemu sering kali aku berlatih dulu apa yang akan aku sampaikan. Bahkan jika rasa takutku sangat tinggi, aku memilih untuk tidak bertemu atasan. Padahal tujuan aku ingin bertemu atasan untuk meminta izin cuti. Rasa takut ini tidak terjadi pada semua atasan, hanya atasan tertentu yang menurutku memiliki mood swing.

Contoh lainnya adalah ketika bertemu dengan orang yang tidak dikenal. Semisal aku tersesat aku lebih percaya google dibandingkan bertanya. Ada ketakutan berbicara ngalor ngidul dan ditanya hal-hal personal yang tidak aku ingin jawab. Kadang pula aku merasa dicurigai oleh orang lain ketika aku mau bertanya sesuatu.

Satu contoh lagi adalah ketika aku harus menjelaskan hal yang tidak aku pahami dengan baik. Rasa takutku pada orang yang bertanya detil dan aku tidak dapat menjawabnya. Rasa takut dianggap bodoh pun sangat besar. Sehingga aku cukup menghindari komunikasi semacam itu.

Tapi dibalik itu semua. Aku ingin bisa berbicara dan menjelaskan sesuatu pada orang banyak. Hanya saja untuk berkomunikasi dengan orang yang belum dikenal atau yang tidak selevel butuh persiapan yang lebih matang.

Dalam bukunya Neuliep yang berjudul Intercultural Communication A Contextual Approach, mengatakan ada empat tipe kekhawatiran komunikasi, yaitu:

  1. Kebiasan atau sifat seseorang. Pada dasarnya orang itu memang punya sifat yang tertutup selama bertahun-tahun. Inilah yang menyebabkan orang ini khawatir jika akan melakukan komunikasi dengan orang lain.
  2. Kekhawatiran karena konteks tertentu. Jika ada tema atau pembahasan tertentu orang ini akan menjadi panik dalam berkomunikasi.
  3. Kekhawatiran karena audiensnya.
  4. Kekahwatiran yang tergantung situasi, ini gabungan antaran kekhawatiran konteks dan audiens.
Dari keempat tipe tersebut, aku tergolong keempatnya. Jika melihat ke belakang, aku cenderung orang yang tertutup dan membatasi diri dalam berkomunikasi. Padahal aku ingin sekali bisa menjadi orang yang ekstrover. Hanya ada satu hal yang mengganjal dalam diri, yaitu nama.

Sebentar, kalau bahas ini aku harus inhale and exhale dulu.

Yes, aku memiliki nama yang umumnya diberikan kepada seorang anak perempuan. Di masa kecil khususnya sekolah dasar, benteng antara laki-laki dan perempuan itu sangat tinggi. Jadi apabila ada suatu gender memakan atribut gender lainnya, itu akan menjadi bulan-bulanan anak sekolah. Yes, it's happen to me. Ketika seorang anak laki-laki menggunakan nama anak perempuan, ditambah acara televisi saat itu mendukung bahwa namaku itu seharusnya digunakan oleh seorang perempuan. Pada waktu itu, orang tuaku tak bisa membantu apa-apa termasuk menguatkan anak laki-lakinya. Hal ini membuat muncul ketidakpercayaan diri yang amat besar khususnya setiap harus memperkenalkan diri dan menyebutkan nama.

Semakin dewasa tentu rasa kekhawatiran itu semakin berkurang. Namun, tentu mengingat masa-masa sebelumnya yang mana aku diejek, kemudian ada rasa sesal akibat hal itu membuat banyak impianku menjadi orang yang bisa berkarya menjadi terpendam. Hal tersebut membuat rasa percaya diri saat dewasa tetap tidak maksimal. Takut salah itu sering terjadi, jadinya merembet dan menyentuk tipe kekhawatiran nomor 2 hingga 4.

Aku tahu sekali, semua ini bisa diubah pelan-pelan. Namun butuh proses, karena benar kata psikolog yang pernah aku temui, semua ini karena pola asuh yang bisa menjadi trauma tersendiri bagi individu sepertiku. Memang aku bisa bertahan dari gempuran orang-orang yang selalu bilang, "kamu bisa div, itu mudah". Yes, i know i can change and be well-communicate. Tapi semua itu butuh proses dan tidak seperti kalian yang bisa dengan mudah mendapatkan apa yang kalian inginkan.

Sedikit menyentil orang tua yang memberikan nama asal pada anaknya. Aku tahu kalian sungguh kreatif, tapi tolong, berilah nama yang baik untuk anak. Jangan aneh-aneh. Berpikirlah ke depan, apakah dengan nama seperti itu, anak akan mendapat tekanan dari teman-temannya atau tidak. Hal ini harus dipikirkan untuk masa depan si anak.

Aku tidak menyalahkan orang tuaku memberikan nama padaku. Aku memakluminya karena keterbatasan informasi pada saat itu. Aku mencoba lebih percaya diri dengan menggunakan nama itu, tapi memang terkadang bekas luka sering terasa ketika ada yang mempertanyakan, "Kenapa namanya Diva?", "Aku pikir Diva itu perempuan". Tapi untuk saat ini, aku menganggap mereka yang mempertanyakan hal tersebut sebagai candaan semata, meskipun terkadang membuat sedikit sesak.

Cidera Kelingking yang Berkepanjangan

Hal-hal yang tidak diinginkan mungkin saja bisa terjadi kapanpun. Bahkan bagi orang yang aktivitasnya bersifat rutin. Dan inilah kejadian ya...